Kisah Dewasa Aku dan Papaku
Kisah Dewasa kali ini menceritakan pengalaman yang tak terduga antara aku dan papaku, yang datang bersama anakku mengunjungiku beberapa tahun lalu.
Namaku Rina. Usiaku 36 tahun dan anak satu perempuan. Aku sudah menjanda lebih kurang 4 tahun lamanya. Sejak mantan suamiku terlibat perdagangan narkoba, keluarga marah besar. Aku pun turut kecewa dan marah. Maka keluarga besarku meminta agar aku menceraikannya. Aku pun setuju, karena disatu sisi dia telah berkali-kali melanggar janji, baik saat menikah maupun setelah mengarungi bahtera rumah tangga.
Dulunya aku bukan cewe yang alim-alim amat. Sebagai bunga di sekolah dan kampus aku cukup aktif mengikuti berbagai kegiatan. Bakat musikku kuekspresikan dengan ikut band. Tak jarang band ku menjuarai berbagai festival.
Namun itu pula yang menjerumuskanku ke dunia gelap. Keenakan mencari uang dengan jadi home band di café, maupun menjadi bintang tamu di sejumlah café membuatku terlalu bebas.
Narkoba pun sering kukonsumsi meskipun cuma lintingan ganja. Minuman keras pun tuk luput dari tenggakanku. Selama lebih kurang 4 tahun aku menjalani hidup seperti itu tak berarti aku gagal menyelesaikan pendidikan. Toh aku bisa menjadi sarjana tepat waktu dengan nilai yang tak kalah dengan teman-teman sekampus.
Aku sendiri telah berhenti mengisap ganja beberapa bulan setelah bekerja di sebuah perusahaan multi media di kota ini, meskipun untuk merokok aku sukar menghentikannya. Minuman beralkohol pun hanya waktu-waktu tertentu saja.
Yang membuatku kecewa dengan pria teman sepanggungku dan kemudian jadi suamiku adalah dia mengkhianati janjinya untuk tidak lagi mengkonsumsi narkoba setelah menikah. Nyatanya selama berumah tangga dia berkali-kali digerebek polisi. Keluar masuk penjara. Aku malu, apalagi keluarga besarku.
Kejadian yang terakhir kalinya, aku memutuskan untuk berpisah darinya. Entah dimana dia sekarang aku tak tahu dan tak mau lagi ambil pusing. Aku fokus pada pekerjaanku. Dan sekali-sekali aku menjenguk putri semata wayangku yang sudah beranjak SMP sekarang dan kutitipkan pada Papaku.
Suatu hari aku mendapatkan berita dari Papaku, bahwa dia akan berkunjung ke sini. Aku merasa sangat gembira. Meskipun kami cukup sering bertemu, tetap saja aku merasa senang karena aku memang membutuhkan anggota keluarga sebagai tempatku mengadu selama ini. Apalagi anakku sudah cukup dewasa untuk mengetahui keadaan Mamanya. Ya, Papaku cukup mampu menjelaskan keadaanku dengan bijak, sehingga anakku tidak memikirkan hal yang bukan-bukan tentangku.
Anehnya, sejak menerima kabar rencana kedatangan Papa, aku sering melamun. Sering aku merasa gelisah menunggu kedatangannya. Entahlah, di usianya yang sudah kepala empat itu Papaku masih terlihat gagah. Tidak nampak kerutan di wajahnya. Bahkan tubuhnya masih terlihat kekar tanpa lemak, walaupun six pack di area perutnya tidak terlalu kentara.
Dia memang Papa tiri. Aku bahkan baru tahu bila dia bukan Papa kandungku sejak aku tamat SMA. Namun aku kadung percaya bahwa dialah Papaku yang sebenarnya. Toh dia memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Dan aku tidak begitu kecewa ketika Mamaku menceritakan tentang dirinya. Aku malah bangga punya Papa sebijaksana dirinya, sahabat terdekat sepertinya, dan…Papa setampan dia. Aduh, pikiranku mulai kemana-mana.
Sayang mamaku tidak lama menikmati kebersamaan dengan papaku. Tidak beberapa lama setelah aku bercerai, beliau meninggal. Aku pun merasa kasihan pada papa, tidak ada yang mengurusnya. Tapi aku lupa bila papa adalah orang yang mandiri dan bisa mengurus dirinya sendiri. Hanya saja dia sering merasa kesepian. Untungnya dia sangat senang ketika aku menitipkan anakku padanya.
Aku pernah menyarankan dirinya untuk mencari perempuan lain untuk menjadi istrinya. Tapi dia menolak keras. Baginya Cuma ada mamaku seorang di hidupnya.
Ah, papa…
Tiba-tiba terlintas di ingatanku 2 tahun lalu ketika aku memergokinya onani. Saat aku masuk ke kamarnya dia kaget dan seketika cucuran spermanya menghambur. Saat aku ikutan kaget, dia merasa malu dan buru-buru membungkus tubuh bawahnya dengan selimut. Namun dia sempat bercanda, “Gara-gara mamamu buru-buru pergi, papa jadi begini.”. Aku ngeloyor pergi dengan wajah memerah semu dan malu, namun juga terkekeh sendiri.
Tak sadar aku memegangi selangkanganku ketika mengingat kejadian itu. Terasa basah dan lembab. Seketika pandangan mataku gelap, otakku meradang. Aku ke kamar.
Aku memperhatikannya turun dari mobil sementara anakku segera berlari ke arahku dan memelukku. “Mama, Ririn kanget... “katanya sambil menitikkan air matanya. Aku yang juga tak kalah rindu memeluknya dengan erat. “Ririn sehat kan sayang ?” kataku membelai kedua pipinya dan mencium keningnya. “Iya ma….”katanya.
Meskipun sudah kelas 2 SMP, tapi sifat kolokannya masih terlihat kalau sudah bertemu diriku. Terus-terusan dia mengapit pinggangku dan menggandeng tanganku. Aku tersenyum-senyum melihat tingkahnya yang mulai berceloteh.
“Hai papa, makin ganteng aja…”sapaku bercanda tersenyum sambil memeluknya erat. Aku menangis di pelukannya. Hanya dia orang tuaku yang tersisa. Apalagi tanpa kehadiran mama, wajar saja aku merasa rindu sekaligus sedih.
“Hei, jangan menangis. Mukamu gak asik kalau menangis.”katanya bersimpati sambil menghibur. Dia mengelus-elus kepalaku. Semakin dibuat seperti itu, rasa sedihku semakin menjadi-jadi. Namun aku tersadar kalau kami berada di pekarangan, dan beberapa orang yang lewat turut memperhatikan kami.
Aku lalu mengajak mereka ke dalam sambil aku menenteng bungkusan oleh-oleh dan papa membawa kopernya. “Kamu gak kerja ?” Tanya papa meletakkan kopernya di ruang tengah.
“Rina WFH pa, jadi kerja dari rumah.”jawabku sambil membuka kulkas dan memberikan air dingin padanya. Sementara ririn sudah terlebih dahulu menghabiskan susu kemasan dingin favoritnya yang sengaja kubeli.
Aku lalu menarik kopernya yang beroda menuju kamarnya, yang bersebelahan dengan ruang keluarga. Sementara Ririn telah terlebih dahulu menaruh barang-barangnya di kamarnya, yang terletak di sebelah kamarku.
Seharian itu kami asyik bersenda gurau dan bercerita banyak hal selama beberapa waktu terakhir.
“Eh Ririn, kakekmu sudah ketemu cewe baru belum ?”tanyaku kepada Ririn bercanda.
“Ieww….kakek makin genit ma. Guru Ririn sering titip salam kalau kakek menjemput ke sekolah.”katanya cemberut diiringi senyum kakeknya dan tawaku.
“Namanya juga berteman Rin…banyak teman banyak rejeki.”kata papa sambil menyalakan rokoknya dan menyerahkan kotaku rokoknya padaku.
Aku mengambil sebatang dan kemudian membiarkan papaku menyalakan pemantiknya. Kuhisap dalam-dalam rokokku. Ah, entah kenapa setiap kali merokok bareng papa rasanya beban di hati selalu hilang. Padahal rokok kami sama merknya.
“Itu sih bukan berteman, tapi menggoda kakek…Ririen kan cewe, tau dong mana yang mengajak berteman, mana yang menggombal”katanya mencubit pinggang papaku.
“Biarin aja kali Rien, siapa tau bisa jadi nenek Ririen ntar”kataku menimpali.
“Iihh mama, sekarang udah ngebelain kakek yaaa”katanya cemberut.
“Udah ahh… Ririen mau mandi dulu. Ririen mau nongkrong sama Wiwik”katanya ngeloyor ke kamarnya. Aku dan papa hanya terkekeh saja. Wiwik adalah teman kecil Ririen dan teman sekelasnya dulu.
Dua hari itu sejak adanya papa dan Ririn di rumah, memang ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Suasana di rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Papa memang pandai membawa diri, pandai mengambil hati orang. Aku yang biasanya jutek kini bisa tertawa lepas.
Namun, selama dua hari itu aku merasa berbeda. Entah kenapa bagian bawah perutku sering kali berkedut dan membasah setiap kali aku dan papa ngobrol berdua sambil merokok. Apalagi papa hanya menggunakan boxer atau celana sport, yang sebenarnya sudah biasa aku lihat sedari kecil bila dia sedang di rumah.
Suatu sore, sehabis aku membersihkan pekarangan aku ke kamar papa untuk mengambil pakaian kotornya. Saat masuk ke kamar, terlihat sepi. Namun samar-samar aku mendengar suara seperti sebuah erangan yang juga berbisik menyebutkan namaku.
“Ahh,..Rinaaa”suara itu menggelitik telingaku dan berusaha mencari-cari asalnya. Tepat, suara itu berasal dari kamar mandi. Aku semakin penasaran. Pelan-pelan kubuka pintu toilet yang tidak terkunci, semakin kubuka dan aku terhenyak.
Kulihat papa sedang menggerak-gerakkan tangannya di bagian bawah perutnya, dengan celana yang melorot. Tak jarang dia memajumundurkan pantatnya. Ya, dia sedang onani. Semakin jelas karena ketika dia menggerakkan tanggannya terlihat ujung benda itu. Tepatnya kepala, dan lebih tepatnya kepala penisnya yang memerah.
“Rinaa….gerakkan pinggulmu naakk”bisik papa terdengar jelas di ruangan itu. Aku bergidik dengan sekujur bulu kuduk merinding. Bukan takut, tapi geli seolah-olah merasakan fantasi papa.
Aku tetap diam memperhatikan di pintu. Tak sadar bagian bawah perutku berkedut, dan mulai terasa gatal. “Memek Rina pasti enak….”bisik papa berdesis kencang. Seketika aliran darahku mengalir kencang dengan dada berdetak mendengar kata memek.
Aku pernah mendengar beberapa kali papa mengatakan itu saat berhubungan sama mama. Ya, aku cukup sering mendengar bahkan melihat bagaimana papa menggumuli mama. Hal yang menjadi penyebab mengapa aku dulu menyerahkan perawanku pada mantan pacarku.
Aku menyukai cara papa menghentakkan pinggulnya dan menekan pantatnya ke selangkangan mama. Cara ayah memberikan rangsangan. Dan paling suka melihat ekspresi papa ketika akan keluar.
Ah, aku tak tahan. Ingin aku memeluk papa dan membantunya. Di satu sisi aku kasihan padanya. Di sisi lain aku juga terangsang melihatnya. Melihat ukuran penisnya yang tebal, rasa gatal di vaginaku semakin menjadi-jadi. Terlebih saat kepala itu menyemprotkan cairan yang tepat masuk ke dalam closet dengan tubuh papa yang menegang kencang dan sedikit melonjak-lonjak.
Seketika aku keluar dari toilet dan kamar papa menuju kamarku sendiri lalu menutupnya. Di kasur, aku terhenyak mengingat apa yang aku lihat. Segera aku menurunkan celana sport pendekku berikut celana dalam.
Kuletakkan jari telunjukku tepat di vaginaku. Terasa mengencang. Aku tidak tahan lagi. Terakhir kali aku masturbasi adalah setahun lalu. Dan terakhir kali aku berhubungan badan dengan lelaki adalah 5 tahun lalu.
Sangat wajar bila diumurku yang sekarang nafsu masih menggelora. Apalagi setelah melihat kejadian di kamar mandi papa. Apalagi, papa menyebut namaku saat melakukannya. Oh, papa….sejak kapan papa menjadikan aku sebagai objek khayalannya ? Apakah papa tidak memiliki orang lain ? Kenapa papa tidak, mm…menyewa lonte saja, atau BO ? begitu banyak cewek di sana, tapi mesti aku yang hadir di pikirannya.
Dan seketika tubuhku menegang. Aku malah membayangkan papa berada di atasku merojok-rojok vaginaku dengan penisnya yang tebal.
Ahh….tubuhku melemas, berkeringat. Singkat, tapi sensasinya luar biasa dan kenikmatan yang luar biasa pula. Kurasakan cairan meleleh keluar dari vaginaku. Tak beberapa lama aku mandi.
Malamnya, dengan mengenakan hot pants dan kaos ketat aku menyiapkan makan malam untuk kami bertiga. Cuaca yang panas membuatku lebih suka menggunakan pakaian ini. Toh papa juga sering melihatku begini dari sejak gadis dulu.
Seperti biasa, kami bersenda gurau sambil menikmati makan malam. Papa turut membantuku membersihkan meja dan mencuci piring saat selesai makan. Sementara Ririen ke kamarnya ber Tik Tok ria sambil VC dengan temannya, aku dan papa di ruang keluarga menonton TV sambil merokok.
Aku mendempetkan tubuhku ke samping papa sambil menyenderkan kepalaku ke lengannya.
“Pa…Rina mau nanya sesuatu”kataku.
“Apa itu ? Bukan pertanyaan skripsi kan …”canda papa menyindir aku dulu saat dia membantu membuatkan skripsiku, sambil mengusap-usap rambutku.
Aku tertawa kecil. “Bukan dong pa…”jawabku
“Mau nanya apa emangnya ?”Tanya papa
“Mmm….ini privasi papa dan privasi Rina”jawabku. Kulihat dia menatapku sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke TV.
“Bisa gak sih papa, kalau lagi onani pintunya dikunci dong”kataku antara takut dan malu. Seketika dia kaget dan melihatku, saat dimana aku malah merasa lucu.
“Maksudnya ?”Tanya papa bingung.
“Pa…Rina paham Papa butuh penyaluran. Tapi kalau yang masuk ke kamar papa itu Ririn gimana coba.”kataku menjelaskan.
“Jadi, kamu….”seketika dia menutup wajahnya. Kulihat ada semu merah disitu. Beberapa saat kami sama-sama diam.
“Maafin papa ya Rina, papa lupa. Lain kali Papa bakal teliti deh…”katanya menyadari bahwa seseorang telah mengetahui perbuatannya.
“Di sana papa kenapa gak cari lagi cewe yang sesuai minat papa “tanyaku.
Sebentar dia terdiam.”Sebenarnya ada cewe yang menurut papa menarik. Tapi papa gak yakin. Makanya papa belum mau cerita. Lagian, siapa juga yang mau sama orang uzur kayak papa”jawabnya sambil masih mengelus-elus rambutku yang pendek sebahu.
“Siapa bilang gak ada. Rina aja kalau papa bukan papa Rina, masih mau kok. Hahahaha…”kataku yang disambut dengan tawa papa.
“Soal kebutuhan papa, kenapa papa gak cari lonte atau BO aja pa”tanyaku menyelidik. “Atau kalau gak, papa tinggal disini aja. Teman Rina banyak kok. Mulai yang baik-baik, sampai yang open BO. Apalagi kalau papa udah pengen banget begituan”kataku.
“Gituan apa ?”Tanya papa
“Ngentot pa….hadeehh gitu aja mesti dijelasin”jawabku sekenanya. Kulihat roman wajah papa, dan aku merasa lucu.
“Anu….mmm….gimana ya. Papa sejak menikah sama mamamu, janji gak mau lagi begituan sama wanita selain mamamu”jawab papa.
“Gituan apa pa…”tanyaku balik bercanda.
“Ngentot Rin…..”jawabnya. Kami pun tertawa terbahak.
Ya, keakraban kami tidak lagi sebatas ayah anak, tapi sudah sahabat. Banyak rahasiaku sering kuceritakan pada papa. Bahkan bila ada masalah juga selalu kukonsuultasikan padanya. Hal-hal yang bersifat pribadi pun sering kuceritakan padanya. Saking gaulnya, kosakata dan prokem yang kami gunakan pun yang kekinian yang terkesan bebas dan liar. Meskipun tidak terlalu sering juga, tapi bila menggunakannya kami tidak risih.
Rokok kami pun sama. Dia sering membelikanku rokok. Terutama sejak aku ketahuan mengganja, dia menyuruhku berhenti. Mama merasa bahagia karena aku perlahan berubah. Menjadi wanita normal. Emang aku kurang normal apa ?
“Beneran pa, gak mau sama cewe temen Rina ? Dia open BO, tapi kalo buat papa Rina jamin gratis dehh…”aku memancing papa untuk mengetahui sisi terliarnya.
Beberapa saat kami terdiam.
“Pa….tadi sore waktu papa ngocok, kenapa nyebut nama Rina ?”tanyaku menyelidik sambil menaikkan tubuhku sehingga tegak menyender ke sofa.
Dia melihat ke arahku beberapa saat, kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke TV sambil mengisap rokoknya. Aku pura-pura tidak melihat saat dia menatapku.
“Pa…”tegurku. Aku tidak tahu apakah dia sengaja mendiamkan pertanyaanku, atau sedang mencari jawabnya. “Ya Rin…”jawabnya parau.
“Kenapa pa ?”aku mencecarnya. Kemudian dia menghadapku.
“Kamu mau jawaban jujur atau gimana ?”jawab papa.
“Terserah papa…”kataku asal-asalan.
Setelah terdiam, dia lalu mulai bercerita.
“Maafin papa ya Rin….papa tadi sore…”katanya lalu berhenti sesaat.
Aku memandang wajahnya.
“Jujur saja, pikiran papa entah kemana-mana waktu ngelihat kamu seharian Cuma pake celana pendek sama tank top. “katanya.
“Masa sih ? Papa terangsang sama Rina ?”tanyaku memastikan.
“Iya Rin…maafin papa ya…”katanya tertunduk lalu mengarahkan lagi tubuhnya menghadap TV.
“Tadi papa sebut-sebut memek Rina. Emang papa udah pernah liat “tanyaku menahan senyum. Tapi dia tidak melihatku.
“Dulu waktu kamu nitipkan Ririn ke Papa, Papa sempat liat kamu masturbasi di kamar papa. Dulunya itu kamar kamu. Kamu gak tau kalo itu sudah kamar papa. Sejak mamamu meninggal, kamar yang biasa buat papa dan mama gak pernah papa tidurin lagi. Cuma akan membuat papa teringat mamamu. Waktu papa mau tidur, papa gak sengaja liat kamu lagi begitu. Papa kaget, pengen negur. Tapi papa baru sadar kalau papa gak ngasih tahu soal kamar itu.”kata papa.
“Begituan apa pa…”tanyaku bercanda.
“Ngocokin memek….masturbasi…”jawab papaku serius yang membuatku kembali ingin tertawa tapi aku tahan. Baru aku tahu kalau papa memang pernah melihat vaginaku. Memang salahku saat itu masih menganggap kamarku masih kamarku, tidak bertanya-tanya dulu. Sementara kamarku pada akhirnya dipindahkan papa ke ruang tengah, yang sekarang menjadi kamar Ririn.
“Menurut papa, tubuh Rina gimana ? Kok bisa sampai jadi fantasi papa ?”tanyaku lagi.
“Badan kamu masih bagus banget Rin, yang sering bikin bertanya-tanya kenapa kamu gak cari laki-laki lain buat jadi suamimu.”jawab papa.
“Waktu papa ngeliat Rina colmek itu, papa gimana ?”tanyaku lagi.
“Waktu itu papa bingung, tapi masih mampu mengalihkan pikiran. Kamu cantik, seksi, dan putri papa satu-satunya yang papa punya. Sayangnya, sejak papa ngeliat kamu ngelakuin itu bayangan-bayangan kamu sedang colmek sering kepikiran sama papa. Papa bingung Rin mau gimana. Apalagi papa masih punya nafsu. Papa harus ngeluarin. Kalau gak dikeluarin papa akan gelisah, susah tidur. “tutur papa mengusap wajahnya sambil menunduk.
Terlihat dia galau, dan ada sesal yang muncul dari sikapnya. Agak lama kami terdiam.
“Kalau papa ngasih tau, pasti Rina bantuin. Di sana ada beberapa teman Rina yang bisa datang ke rumah buat temen ngentot papa. Atau papa datang ke rumahnya juga bisa.”kataku.
“Njirr….kamu bilang ngentot gitu papa merinding.”katanya tertawa.
“Udah ahh….sekali lagi papa minta maaf ya Rin…”kata papa mengambil tanganku dan mengelus punggungnya. “Papa ke kamar dulu ya….”katanya mengelus kepalaku.
“Iya papa…selamat bobok”kataku balas mengelus tangannya yang membelai rambutku.
Ah, papa. Tidak mungkin aku marah sama papa. Papa orang baik, tidak pernah membuat Rina kecewa. Apalagi dari dulu aku juga ingin membuatnya bahagia dibalik semua masalah yang sering aku hadirkan namun dengan tangan dinginnya semuanya bisa terselesaikan.
Lagipula, dengan segala keadaan dan masalah, aku justru sering lupa batasan-batasan antara papa dan pria lawan jenis.
Terlebih lagi, sedikit banyak urusan ranjang papa banyak yang aku ketahui meskipun diantaranya tanpa sepengetahuan dia.
Ah…aku tersanjung ada aku dalam fantasi papa. Gilaa…
Sambil membuka-buka ponsel di kamar, bersitan-bersitan perkataan papa tentang objek fantasinya, dan lintasan bayangan papa sedang mengocok di kamar mandi tadi sore sedikit banyak mulai menggangguku.
Kenapa juga aku colmek di kamar itu. Kenapa juga harus aku yang papa jadikan fantasinya. Tapi, kenapa juga sih kalau aku memang menarik untuk dijadikan objeknya ?
Aku berdiri dan mematut diri di depan kaca. Kulepaskan tank top dan celana short pants ku. Kuamati tubuhku. Dadaku yang 36B masih kencang dan belum kendor. Tubuhku tanpa lemak dengan sedikit otot di perut dan lenganku.
Pahaku besar, dan beberapa bagian terlihat ototnya. Maklum, dulu aku adalah mantan atlet beladiri yang dilatih langsung oleh papa.
Beralih ke bagian bawah perutku, vaginaku tanpa bulu. Aku rajin membersihkannya. Entah kenapa, saat papa cerita kalau dia suka vagina mama karena tanpa bulu, membuatku terobsesi untuk tidak membiarkan bulu-bulu di sana tumbuh berlama-lama.
Kubuka sedikit bibir vaginaku. Masih terlihat segar dengan warna memerah muda. Kutekan sedikit itilnya, mmm…Rasa geli menyelimuti. Saat aku mulai menggosok-gosokkan ujung jariku disana, ketukan dipintu segera mengejutkan.
“Rin…sudah tidur ?”suara papa terdengar di luar sana.
“Eh, anu…belum pa”jawabku panik. Aku bergegas mengenakan kembali shortpant dan tank top ku. Aku bisa saja menyuruhnya segera masuk karena pintu memang tidak dikunci. Tapi aku lupa aku bugil.
“Masuk aja pa…”kataku dari kasur sambil menyuruhnya masuk. Saat dia membuka pintu, aku pun segera mendudukkan tubuhku.
“Belum tidur Rin ?”tanyanya berdiri diiringi langkahku menuju arahnya sambil menutup pintu kamar.
“Belum pa…masih gerah. Papa sendiri kok gak jadi tidur ?” tanyaku duduk sambil memberi isyarat kepada papa untuk duduk di kasur, sementara aku menuju kaca cermin untuk membersihkan wajahku dengan lotion.
Dia mengikutiku ke arah cermin tanpa bicara. Sesampainya di belakangku yang sedang menggosokkan kapas, dia berhenti sambil turut menatap ke cermin.
“Udah cantik gitu masih poles-poles, yeee….gak ori dong”katanya bercanda.
“Iss papa, namanya cewe ya harus rutin pemeliharaan. Biar kulit tetap sehat”kataku.
Kulihat dia bergerak melakukan sesuatu. Agak heran, aku lalu membalikkan badan dan segera menahan napas. Kulihat dia telah memelorotkan celana boxernya. Ya, dia bugil.
“Papa…ini….papa kenapa ? “tanyaku bingung.
Dia masih diam, menatapku.
“Pa….itu, kontol papa….kok berdiri ?”tanyaku masih heran.
Tiba-tiba dia meraih pinggangku dan menempelkan ke tubuhnya. Dia menatap mataku lama. Aku mulai berpikiran aneh.
“Pa….papa lagi butuh ya ? Rina panggil temen Rina ya ?”tanyaku sembil menahan perutnya yang mendempet ke perutku. Ada sedikit panic muncul di diriku.
“Lihat Rin….kamu bisa lihat kan ?”Tanya papa mengarahkan pandangannya ke bagian bawah perutnya.
“Papa konak Rin…”kata papa dengan suara parau.
“Konak kenapa Pa ? papa habis nonton bokep di kamar ya ? “tanyaku masih bercanda meskipun perasaan cemas mulai muncul. Bukan apa-apa, aku juga takut bila diperkosa. Apalagi orang tersebut sedang bernafsu tinggi, dan orang itu adalah ayahku.
“Kamu pakai hot pants begini tadi di ruangan sana udah bikin papa mikir macem-macem”kata papa sedikit mengeluh, masih sambil menundukkan wajahnya.
“Pa….tapi ini Rina Pa….putri papa”kataku mencoba menggugah kesadarannya di sela-sela tangannya yang mulai meremas pantatku dibalik hotpants yang kugunakan.
“Iya Rin, kamu putri Papa….tapi…Rina terus-menerus membuat papa semakin sadar kalau papa masih laki-laki normal.”kata papa sambil mendempetkan lagi tubuhkan ke tubuhnya dan menekan-nekankan bagian bawahnya yang telah menjulang dengan tegak lurus itu ke bawah perutku.
Dia menatap mataku penuh harap, ditengah kekalutanku menebak-nebak apa yang dia inginkan.
“Papa…mau apa ? Apa yang Rina bisa bantu pa ?”tanyaku menenangkannya. Sesaat dia memang tenang sambil menatap wajahku. Lalu dia meraih tanganku yang sedikit kutentang. Tapi melemah saat tahu arah tanganku dibawa.
“Pa….”dia mengatupkan jemariku untuk menggenggam penisnya. Uhh….terasa keras. Tiba-tiba sesuatu bermain di bagian bawah perutku, yang membuatku geli dan dengan cepat memberikan efek listrik ke seantero tubuhku.
“Pa….jangan yang ini ya pa….”kataku membujuknya. Aku berusaha meyakinkannya untuk tidak melakukan itu padaku, putrinya.
“Punyamu ini terus menerus mengganggu papa, nak”katanya menatapku sambil memijit-mijit bibir vaginaku dan menekan-nekan jari tengahnya.
“Pa…kenapa harus memek Rina pa…”kataku memelas padanya sambil menahan lengannya agar tidak lebih jauh. Tepatnya agar tidak membuatku semakin terangsang, meskipun dilubuk hati aku ingin dia segera menelanjangiku. Ah, ini salah. Tapi …
Tanpa kuduga, dia mendorong tubuhku ke dinding di sebelah cermin dan menekan tubuhku. Tanpa kuduga pula leherku mendapat serangan. Tanganku masih mencoba menahan intervensi tangannya yang mulai menelusup ke balik short pants ku yang tanpa celana dalam, sementara tanganku satunya menahan perutnya agar tidak menekan perutku.
“Pa….ini gak boleh…”kataku melarang. Tapi terlambat, saat bibir dan giginya menjilati dan menghisap telingaku serta memainkannya dengan gigitan-gigitan kecil.
Aku menjadi lemas, dan merasa rapuh dengan nafsuku yang mulai muncul dengan cepat seturut tangannya semakin agresif bermain di area tersembunyi di bawah sana.
“Maafin papa nak….tapi papa gak bisa nahan…”katanya berbisik sambil mulai menurunkan sort pants ku yang mulai lembab.
Tanpa sadar aku menyambut ciuman papa. Ahh…ciuman itu begitu hangat, membuatku tak bisa beralasan kalau aku tidak mau menerimanya.
Segera kumainkan lidahku dalam mulutnya, saat dimana bibirnya bermain dan giginya menggigit kecil bibir bawahku. Beberapa menit kami melakukannya sambil berdiri. Dan entah kapan dia melakukannya, ketika kulihat tangannya meremas dadaku yang juga sudah tanpa penutup.
“Pa….kok jadi begini….”kataku memelas. Antara menolaknya, sekaligus juga menginginkannya.
“Entahlah nak…papa juga gak tau”kata papa yang dilanjutkan dengan ciumannya pada leherku dan gigitannya pada daguku. Dia memberikan kemanjaan padaku, sehingga tanpa sadar aku mengelus-elus kepalanya.
Pada saat bersamaan, bagian bawahku telah terbuka sempurna. Dia menggodaku sambil menunjukkan jari telunjuknya padakku. “Basah…”katanya.
Caranya itu membuatku malu tapi sekaligus membuat birahiku menjadi-jadi. Aku merasakan sesuatu pada vaginaku. Entah kapan mulutnya sudah berada di sana, menciumi area sekitar vaginaku sembari memainkan lidahnya.
Aku seperti tersengat listrik akibat yang dilakukannya. Aku merasakan liang vaginaku seperti membecek, diiringin bunyi decak akibat hisapan dan kecupan bibir dan lidahnya di dalam sana.
Lututku seperti melemas, dengan berusaha mengayunkan pinggulku dan memajumundukan pantatku untuk menambah rangsangan pada hisapan lidahnya.
“Pa…..enak banget pa”kataku tanpa sadar mengapresiasi aktivitasnya di vaginaku. Ya, sudah cukup lama aku tidak lagi merasakan dioral seperti ini. Dulu dengan mantan suamiku, di awal-awal menikah sangat menyukai ini. Tapi sejak lahirnya Ririn dia tidak pernah lagi. Janganku untuk menjilati vaginaku, mencium dan memelukku saja tidak lagi. Dia lebih mencintai kristal-kristal narkotika yang membuatnya seperti lupa dengan sekelilingnya.
Aku semakin membencinya sejak dia mencoba menawarkan tubuhku untuk dibarter dengan setengah kilo kokain dengan rekan dealernya. Vaginaku hanya pernah digumuli dua orang. Mantan pacarku, dan mantan suamiku. Dua orang yang memberikan kekecewaan di hidupku.
Kini, ada papaku dengan segala kejujurannya yang tidak bisa menghindari rangsangan setiap kali menatap tubuhku, sedang bereksperimen menjelejahi area yang telah lama ditinggalkan itu.
Perlahan namun pasti, akal sehatku tertutup dengan nafsu berbalut fantasi papaku, yang malah ingin aku eksplorasi. Entah kenapa, aku tidak melakukan penolakan layaknya orang yang tidak rela. Malah terkesan samar, antara aku menolak dan aku menginginkannya.
Dengan berbagai rasa campur aduk, dan lintasan-lintasan ingatan yang tidak jelas, rasa gatal di vaginaku semakin menjadi-jadi.
“Memek Rina gimana paa….”tanyaku disela desis dan desahan yang keluar dari mulutku.
Dia menatap wajahku dari bawah sambil memainkan lidahnya di itilku. “Memek kamu harum nak…”kata papa. Begitu dia mengatakan itu, seketika tubuhku menegang. Aku memegangi kepala papa, dan menekan pinggul dan pantatku ke wajahnya.
“Paapaaa……”aku orgasme. Kubiarkan tubuhku terguncang dan menegang dengan tangan papa menahan kedua sisi pinggang dan pahaku. Terasa vagina dan itilku diisap-isap oleh papa, membuatku terhentak-hentak.
Beberapa saat kubiarkan tubuhku lunglai sambil bertumpu pada pelukan papa di pahaku, dengan lidahnya masih menjilati vaginaku. Luar biasa, hanya dalam beberapa menit papa bisa membuatku orgasme. Hal yang dulu tidak bisa dilakukan oleh kedua mantanku.
Menggelosoh layu, papa menahan tubuhku agar tidak limbung dan segera memelukku. Kemudian menggendongku sambil mencium pipi dan keningku penuh kasih.
Aku menatapnya bingung di tengah kenikmatan dan getaran-getaran pada selangkanganku yang masih terasa. Tanpa sadar aku balas mengecup bibir papa.
Biarlah, bila memang ini harus aku lalui, aku akan melaluinya bersama orang yang selama ini melindungi dan menjagaku sejak kecil. Toh aku juga menginginkannya sekarang.
Di kasur, dia menatap wajahku sambil tersenyum. Aku tidak tahu entah dimana tank top dan short pants ku sekarang, yang pasti tubuh telanjangku dibiarkan menelentang.
Aku tidak keberatan, sama sekali tidak, dengan keadaan kami yang sekarang sudah sama-sama telanjang. Aku hanya takut bila saat aku benar-benar menginginkannya, aku tidak mendapatkannya.
“Gimana nak ?”Tanya papa padaku mengusap-usap pahaku sambil menciumi lenganku.
“Baru papa yang bikin Rina begini”jawabku jujur. “ Memek Rina masih kedutan lho pa…biarin dulu, geli bangeetttt”kataku menjerit saat papa memainkan jarinya di situ yang dibarengi tawa tertahan kami berdua. Takut kedengaran sama Ririn di kamar sebelah.
“Kontol papa gimana ?”tanyaku sedikit tertawa kecil. Papa berdiri dan memperlihatkan tubuh telanjangnya lengkap dengan acungan gagah penis nya itu.
Aku membiarkan papa mendekatkan tubuhnya, dan menyodorkan kontolnya ke wajahku. Aku tertawa kecil diiringi terkekehnya papa. Kubiarkan dia menyenggol-nyenggolkan kontolnya di pipikan, menekan-nekan ke bibirku.
Aku tak kuasa membiarkannya, dan dengan lahap kumasukkan penis tebalnya ke mulutku. Kubiarkan lama dengan menggigit-gigitnya, saat dimana lidahku menggelitik lobang kencingnya. Beberapa saat, aku kemudian mulai mengeluar masukkannya sambil mengocok-ngocok batangnya. Tak ketinggalan kupencet dan main kan buah pelirnya.
“Ahhh….enak banget naakk…..”desah papa saat telurnya kuisap dan kugigit. Dia begitu terangsang, aku yakin itu. Dengan cepat, vaginaku kembali mengencang.
Aku menegakkan tubuhku dan menyuruh papa duduk di kasur dan menyender di dinding.
“Sini pa….”kataku sedikit memerintah. Dia lalu memposisikan tubuhnya seperti yang kupinta. Aku lalu kembali mengisap kontol papa diantara kedua pahanya. Dalam beberapa menit, nafsuku semakin membuncah. Sangat berbeda dengan papa yang sangat tenang.
Tanpa babibu, aku langsung naik ke tubuh papa, menciumi wajahnya lama-lama. Entah kenapa juga, dibalik nafsu yang meningkat rasa sayang juga turut hadir. Kuciumi mata, kening, hidung, hingga dagu. Terakhir pada bibirnya, ku berikan air ludahku dan kumainkan dilidahnya.
Aku menjadi agresif saat jemarinya bermain di vagina dari belahan pantatku.
“Pantat Rina bagus, papa suka banget…”kata papa memujiku. Mendengar pujiannya aku semaking blingsatan. Papa tau caranya memuji di waktu yang tepat dan pada benda yang tepat. Tidak sekedar untuk menenangkan, tapi memang berdasarkan faktanya.
“Papa sudah beberapa tahun ini pengen banget masukin kontol papa ke memek Rina. Sejak Rina colmek itu”kata papa sambil tersenyum menatapku, lalu menciumi dadaku. Aku menggelinjang geli saat giginya menggigit kecil putingku.
“Papa mau coba sekarang ?”tanyaku menyunggingkan senyum menggoda. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku lalu berdiri dari tempat tidur, menarik tangan papa untuk sama-sama berdiri. Kami lalu berciuman lagi, dimana papa meremas dadaku dan tangan satunya memainkan vaginaku.
Aku sudah tak tahan, lalu masih sambil berpelukan kuraih kontol papa yang sedari tadi menyodok-nyodok perutku.
Kubiarkan papa menatapku yang sedang mengarahkan kontolnya ke memekku. Aku lalu menekannya, dan dia melakukannya pada arah yang berlawanan.
“Paaa…pelan-pelan…udah lama gak kemasukan kontol”kataku mengerenyit menahan. Ya, memekku masih terasa seret. Selain aku merasa sedikit perih dengan ukuran kontol papa, dia juga agak sungkan memasukkannya dengan kencang.
Namun kontol papa berhasil masuk seluruhnya. Vaginaku terasa penuh.
“Luar biasa memekmu nak….”kata papa memujiku sambil menatapku, dan membiarkanku lebih aktif mendorong pantatku.
Beberapa menit dalam posisi berdiri itu membuatku menyadari bahwa aku memang sangat haus akan belaian dan kenikmatan seperti ini, yang sudah sangat lama tidak kurasakan.
Aku makin menyayanginya, terlepas dari dia adalah papaku. Caranya menghunjamkan kontolnya di vaginaku sangat berbeda. Penuh ketenangan dan tidak grasa grusu. Entahlah, aku memang suka hardcore yang dimainkan dengan cara yang lembut.
Kami sambil menggerakkan pinggul berlawanan arah, dengan mata sambil menatap. Setiap kali dia menatapku tersenyum, aku tak tahan. Ini benar-benar salah. Seandainya dia bukan papaku, meski juga bukan papa kandung. Sambil papa mengentotku, aku merangkulkan tanganku di lehernya dengan saling berciuman.
Selang 10 menit dalam posisi itu, sesuatu tiba-tiba membuatku seperti terkena aliran listrik, saat dimana papa menghunjamkan kontolnya sementara jarinya memainkan itilku.
“Pa….ahhhhh”aku mendesah lirih. Nafsuku memuncak. Seketika aku menghentikan gerakan kami berdua. Aku melepaskan rangkulanku pada papa, lalu menyuruhnya telentang.
“Pa, dulu papa senang banget kalau cewenya diatas”kataku tersenyum. Papa sedikit kaget dengan kata-kataku, saat aku mulai menaiki papa dari atas dan meraih kontol papa untuk dicocokkan searah dengan memekku.
“Beberapa kali Rina pernah kedapatan ngeliat papa entotan sama mama”kataku berbisik sambil mulai menurunkan pinggulku.
“Hah ? kapan ? dimana “cecar papa.
“Makanya kalau entotan itu di kamar, jangan di ruang tamu atau di WC. Pulang kuliah sering kepergok sama Rina, makanya Rina diam-diam pulangnya gak mau gangguin papa sama mama”kataku menjelaskan sambil tersenyum genit. Sementara kontol papa telah masuk seluruhnya ke dalamku.
“Aahhh…..”spontan aku mendesah.
“Ohh….enak banget nak….memek kamu masih legit banget nak…”kata papa kembali memujiku. Pujian papa selalu tulus apa adanya. Itu yang membuatku suka kalau papa yang memujiku.
Aku membiarkan papa menggenjot vaginaku dari bawah, sementara aku juga meresponnya dengan sigap. Pelan tapi pasti, bunyi beradunya selangkangan kami terasa sangat keras ditengah deras keringat yang mengucur.
“Hhhh,……papaaaaa……”kataku mulai merasakan tanda-tanda akan keluar lagi. Tapi sebisa mungkin kutahan. Aku ingin papa yang keluar duluan.
“Ohh…enak banget Rin….”kata papaku disela genjotannya. Aku menciumi wajah papa sembari meliuk-liukkan pinggulku.
“Jepitan memek Rina amppuunn sayang….nikmat banget”kata papa dengan mata merem melek. Aku senang bisa membuat papa keenakan, meski disatu sisi aku juga merasakan nikmat yang teramat sangat.
“Tahan ya pa”kataku tersenyum genit ke arahnya. Dia kebingungan.
“Tahan apa nak ?”kata papa. Aku sekali lagi membalasnya dengan ketawa.
“Ini paa…”kataku, yang diikuti gerakan memutar dan naik turun pinggul dengan pantat yang menekan kuat, sementara ketika kontol papa masuk aku memainkan otot vaginaku.
“Ohhh….hhhhhhh….Rinaaaa…”desah papa parau. Kulihat dia berusaha keras melakukan perlawanan. Sialnya, perlawanannya memberikan kenikmatan tiada tara, dengan memekku semakin terasa basah dan gatal.
“Bentar….rinnn….bentar sayangghh…”kata papa setelah aku melakukannya 10 menitan. Aku tertawa kecil melihatnya panic.
“Kenapa papaa sayang…”kataku.
“Bentar….cari napas dulu”katanya. Tapi aku tidak mengindahkannya.
Aku tetap melakukannya, tak peduli dia menahannya sekuat tenaga. Toh aku juga sudah sangat mendekati akhir. Terlihat dari gerakanku yang mulai tidak beraturan, dimana pada saat yang bersamaan papa menghunjamkan kontolnya sedalam-dalamnya dan melakukan gerakan seperti mencungkil atau tepatnya mengebor.
“Rinaa ….rina sayaang….jangan didalaammm…”kata papa.
“aahh….Rinnnaa……tunggu naak….”kata papa.
Gila, benar-benar hebat papaku. Mataku sampai membeliak menahan nikmat genjotan papa. Aku ingin orgasme lagi.
“Paaa….oohh....enak pa….ahhh...ssshhhh...”kataku mengerang nikmat. Aku tak peduli papa aku memuncratkannya di dalam vaginaku. Aku ingin sekarang.
Ah, semakin dekat, semakin dekat…
“Rin…..papaaa keluarr…”teriak papa tertahan dengan suara parau.
“Crott……crottt….croootttt”
Kurasakan beberapa kali tembakan cairan papa menyemprot masuk ke vaginaku, menimbulkan sensasi tersendiri yang memancing orgasmeku segera tiba.
Kurasakan peluk erat tubuhnya pada tubuhku dengan ciuman yang mendarat di bibirku, mata kami saling menatap. Kubiarkan papa mendapatkan ejakulasinya, karena tidak sempat lagi memikirkan hal lain karena tubuhku juga menegang.
“Papaaaaaaa…..”teriakku mendesah, sembari goncangan menerpa tubuhku berbarengan dengan keluarnya cairan hangat.
Mungkin inilah hubungan badan ternikmat dan terindah yang pernah kurasakan, karena pada saat mendapatkan orgasme itu aku dipeluk erat, seolah-olah aku dijaga agar tetap nyaman menikmatinya.
Tubuh kami basah bergelimang keringat. Dengan tubuhku masih di atas papa, kubiarkan cairan dari vaginaku menetes di sela-sela kontol papa dan merembes ke paha papa.
Kulihat wajah papa dengan matanya menatapku. Tailah, mata itu terlihat teduh dan indah, membuatku nyaman. Semoga ini bukan cinta. Karena bila benar, maka aku yakin akan ada pertempuran hati. Lebih mengerikan bila pertempuran hati ini karena dia papaku.
Papa mengecupi keningku. Aku merasa nyaman.
“Rina sayang papa…”kataku tulus, sambil mencium bibirnya.
“Papa juga nak…”kata papa.
Kami biarkan tubuh kami beristirahat beberapa saat. Lalu kutelentangkan tubuhku di samping papa, sambil menatap langit-langit kamar.
Ah, entah sampai kapan aku bisa terus menikmati hubungan badan yang indah ini bersama papa. Meskipun aku tau itu salah, tapi aku tidak salah bila menginginkan kembali hasratku sebagai wanita.
